Bagi banyak pecinta otomotif, modifikasi mobil adalah bentuk ekspresi diri. Dan hampir selalu, sektor kaki-kaki menjadi langkah pertama: mengganti velg dengan diameter lebih besar, ban lebih tipis, atau desain yang lebih sporty. Namun, pendekatan ini ternyata tidak bisa diterapkan secara sembarangan pada mobil listrik, termasuk BYD Atto 1.
Meski secara visual terlihat menarik jika menggunakan velg lebih besar, BYD Atto 1 memiliki sejumlah pertimbangan teknis yang membuat penggantian velg dan ban tidak bisa dilakukan asal-asalan. Hal ini ditegaskan langsung oleh pihak pabrikan melalui Bobby Bharata, Head of Product PT BYD Motor Indonesia.
Velg 16 Inci Bukan Pilihan Acak
BYD Atto 1 yang dipasarkan di Indonesia hadir dengan velg standar berukuran 16 inci. Sekilas, ukuran ini mungkin terasa “tanggung” bagi sebagian konsumen yang terbiasa melihat city car bergaya sporty dengan ring 17 atau bahkan 18 inci. Namun, Bobby menegaskan bahwa pemilihan ukuran tersebut sudah melalui perhitungan matang.
“Kalau bicara Atto 1, usage-nya memang kami arahkan sebagai city car. Dengan dimensi mobil seperti ini, velg 16 inci itu sudah paling pas,” jelas Bobby saat ditemui di Yogyakarta.
Ukuran velg berkaitan langsung dengan bobot kendaraan, efisiensi energi, kenyamanan berkendara, hingga karakter handling. Pada mobil listrik, aspek-aspek ini menjadi jauh lebih sensitif dibandingkan mobil bermesin bensin.
Ban Mobil Listrik Itu Berbeda
Kesalahan paling umum yang sering dilakukan pemilik mobil listrik pemula adalah menyamakan ban EV dengan ban mobil konvensional. Padahal, ban yang digunakan BYD Atto 1 merupakan ban khusus mobil listrik (EV tire).
Ban EV dirancang untuk menghadapi karakter motor listrik yang unik, terutama torsi instan. Berbeda dengan mesin bensin yang menyalurkan tenaga secara bertahap, motor listrik memberikan torsi penuh sejak putaran awal. Kondisi ini membuat ban harus memiliki daya cengkeram (grip) lebih tinggi.
“EV itu butuh traksi yang cukup tinggi karena torsinya langsung keluar. Kalau salah ban, efeknya ke mana-mana,” kata Bobby.
Risiko Kalau Asal Ganti Ban dan Velg
Mengganti velg dan ban tanpa mempertimbangkan spesifikasi EV bisa menimbulkan beberapa dampak serius, bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga performa dan keselamatan.
Beberapa risiko yang bisa muncul antara lain:
1. Kabin Lebih Bising
Ban EV dirancang untuk menekan road noise. Jika diganti dengan ban biasa, suara gesekan ban dengan aspal akan lebih terdengar karena mobil listrik nyaris tanpa suara mesin.
2. Traksi Menurun
Ban non-EV belum tentu mampu menahan torsi instan motor listrik. Akibatnya, grip berkurang dan akselerasi terasa kurang stabil, terutama di jalan basah.
3. Handling Berubah
Perubahan diameter velg dan profil ban akan memengaruhi geometri suspensi dan karakter kemudi. Mobil bisa terasa lebih keras, kurang nyaman, atau bahkan tidak seimbang.
4. Umur Ban Lebih Pendek
Karena tidak dirancang untuk beban dan torsi EV, ban konvensional bisa lebih cepat aus jika dipasang di mobil listrik.
“Semua nanti pengaruh. Kebisingan ngaruh, traksi ngaruh, ketahanan ban juga ngaruh,” tegas Bobby.
Efisiensi dan Jarak Tempuh Bisa Terganggu
Hal lain yang sering luput diperhatikan adalah dampak modifikasi kaki-kaki terhadap efisiensi baterai. Velg yang lebih besar dan lebih berat akan meningkatkan rolling resistance, sehingga konsumsi energi menjadi lebih boros.
Pada mobil listrik seperti BYD Atto 1, perubahan kecil pada bobot roda bisa berdampak langsung pada jarak tempuh. Artinya, mobil bisa jadi lebih sering mengisi daya hanya karena mengganti velg dan ban yang tidak sesuai spesifikasi.
Kalau Mau Upgrade, Ini Jalan Aman
Meski demikian, BYD tidak sepenuhnya melarang konsumen untuk melakukan perubahan. Kuncinya adalah tetap mengikuti standar pabrikan.
Menurut Bobby, opsi upgrade masih memungkinkan jika menggunakan velg OEM yang memang dirancang oleh BYD untuk Atto 1.
“Kalau misalnya BYD menyediakan opsi ring 17, itu mungkin masih oke. Jadi bukan sekadar soal ukuran, tapi apakah velg dan ban itu memang cocok untuk karakter mobilnya,” jelasnya.
Velg OEM biasanya sudah diuji untuk bobot, kekuatan, aerodinamika, dan kompatibilitas dengan sistem suspensi serta rem mobil. Dengan begitu, konsumen tetap bisa mendapatkan tampilan berbeda tanpa mengorbankan performa dan keamanan.
Karakter Atto 1 Sebagai City Car
BYD Atto 1 memang diposisikan sebagai mobil listrik perkotaan. Fokus utamanya adalah kemudahan dikendarai, efisiensi, dan kenyamanan harian. Oleh karena itu, pendekatan modifikasi ekstrem yang biasa dilakukan pada mobil konvensional kurang relevan diterapkan di sini.
Dengan velg 16 inci dan ban 185/55R16, Atto 1 menawarkan kompromi ideal antara kenyamanan, efisiensi, dan stabilitas di kecepatan perkotaan.
Sekilas Spesifikasi BYD Atto 1 Indonesia
Sebagai gambaran, berikut spesifikasi utama BYD Atto 1 yang dipasarkan di Indonesia:
- Harga:
Rp195 juta (Standard Range Dynamic)
Rp235 juta (Long Range Premium) - Velg & Ban:
Alloy 16 inci
Ban 185/55R16 (EV tire) - Motor Listrik:
Daya 55 kW (73 dk)
Torsi 135 Nm - Baterai & Jarak Tempuh:
30,08 kWh → ±300 km
38,88 kWh → ±380 km - Pengisian Daya:
AC 7 kW (wall charger resmi)
DC fast charging 30–40 kW (30–80% ±30 menit)
Kesimpulan
BYD Atto 1 membuktikan bahwa modifikasi di era mobil listrik tidak bisa lagi hanya mengandalkan estetika. Penggantian velg dan ban harus mempertimbangkan traksi, kebisingan, efisiensi energi, hingga karakter torsi motor listrik.
Velg 16 inci dan ban EV bawaan bukanlah keterbatasan, melainkan hasil kompromi teknis terbaik untuk penggunaan harian di kota. Jika ingin upgrade, jalan paling aman adalah mengikuti opsi resmi dari pabrikan.
Di mobil listrik, tampil beda itu sah—asal tetap cerdas.
Baca Juga : Enggak Pakai Air Suspension, Maserati GTS Stance Static Ini Fitment-nya Juara
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : dapurkuliner

