Mobilitas dan Kenyataan Transportasi di Samarinda
Bicara soal mobilitas, hampir mustahil memisahkannya dari urusan transportasi. Di kota-kota besar, pilihan transportasi publik mungkin beragam. Namun di Samarinda, realitasnya berbeda. Tidak ada LRT, MRT, atau sistem transportasi massal sekelas Transjakarta yang bisa diandalkan untuk mobilitas harian.
Akibatnya, kendaraan pribadi menjadi solusi utama. Roda dua dan roda empat mendominasi jalanan. Bagi sebagian besar warga, sepeda motor adalah pilihan paling realistis: terjangkau, lincah, dan relatif mudah dirawat. Saya pun termasuk dalam kelompok itu. Kendaraan roda empat masih sebatas angan—untuk sekarang, motor adalah teman setia dalam segala urusan.
Awal Perjalanan dan Bengkel-Bengkel yang Disinggahi
Memiliki sepeda motor berarti juga siap menjalin hubungan jangka panjang dengan bengkel. Mulai dari servis rutin, ganti oli, hingga perbaikan mendadak yang datang tanpa aba-aba. Selama bertahun-tahun menggunakan sepeda motor, tentu ada beberapa bengkel yang pernah saya singgahi.
Seperti peribahasa “tak ada gading yang tak retak”, setiap bengkel memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada yang cepat tapi kurang rapi, ada yang teliti tapi mahal, ada pula yang ramah namun hasil kerjanya mengecewakan. Dari semua itu, perjalanan mencari bengkel idaman ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Bengkel Resmi sebagai Pelabuhan Pertama
Tak perlu ditebak, bengkel resmi menjadi “pelabuhan” pertama saya ketika motor masih benar-benar baru. Masih gres, masih “reyen”. Tawaran servis dan oli gratis jelas menjadi daya tarik utama. Sulit menolak sesuatu yang gratis, apalagi dibungkus dengan janji kualitas dan profesionalisme.
Peralatan di bengkel resmi terlihat lengkap dan modern. Tata ruang rapi. Montir mengenakan seragam, dan sertifikat keahlian terpajang di dinding seolah menjadi jaminan mutu. Sebagai konsumen awam, pemandangan ini memberikan rasa aman. Motor terasa berada di tangan yang tepat.
Bahkan setelah masa servis gratis berakhir, saya tetap setia datang. Nama besar merek memberi keyakinan bahwa standar pelayanan akan tetap terjaga. Ruang tunggu cukup nyaman, ada air minum, dan sesekali hiburan ringan. Rasanya, hampir tidak ada yang perlu dikeluhkan.
Kenyamanan yang Tidak Bertahan Lama
Namun, kenyamanan itu ternyata tidak abadi. Seiring waktu, pengalaman mulai berubah. Salah satu kekecewaan paling nyata datang dari keberadaan montir magang, sebagian besar siswa SMK yang masih dalam tahap belajar.
Magang sejatinya bukan masalah. Setiap profesional tentu pernah menjadi pemula. Namun yang mengecewakan adalah ketika proses belajar itu seolah mengorbankan konsumen. Standard Operating Procedure (SOP) terasa tidak jelas. Motor ditangani dengan terburu-buru, komunikasi minim, dan beberapa kesalahan kecil mulai bermunculan.
Ada rasa ragu ketika melihat motor kesayangan “dipegang-pegang” oleh orang yang tampak belum sepenuhnya memahami tanggung jawabnya. Bukan soal tidak percaya, tetapi soal minimnya pendampingan dan pengawasan. Bengkel resmi yang dulu terasa profesional, perlahan kehilangan sentuhan personal dan ketelitian.
Dilema Antara Murah, Cepat, dan Berkualitas
Dari situ, saya mulai melirik bengkel non-resmi. Bengkel pinggir jalan, bengkel langganan teman, hingga bengkel yang direkomendasikan komunitas motor. Masing-masing menawarkan sesuatu: harga lebih murah, pengerjaan cepat, atau suasana yang lebih akrab.
Namun dilema baru muncul. Bengkel murah belum tentu rapi. Bengkel cepat belum tentu teliti. Bengkel yang ramah belum tentu bertanggung jawab jika terjadi kesalahan. Di sinilah saya mulai sadar bahwa mencari bengkel idaman bukan sekadar soal teknis, tetapi soal kepercayaan.
Ada bengkel yang awalnya memuaskan, tetapi kualitas menurun seiring waktu. Ada pula yang bagus, namun antreannya panjang dan sulit diandalkan saat darurat. Semua pengalaman ini membentuk semacam peta kekecewaan kecil yang terus bertambah.
Bengkel sebagai Ruang Interaksi, Bukan Sekadar Jasa
Yang sering dilupakan adalah bahwa bengkel bukan hanya tempat servis, tetapi ruang interaksi. Di sana ada komunikasi antara pemilik kendaraan dan montir. Ada proses menjelaskan keluhan, mendengar saran, dan memahami risiko.
Bengkel idaman, bagi saya, bukan yang paling mewah atau paling terkenal. Melainkan yang mau mendengarkan. Montir yang menjelaskan apa yang rusak, bukan sekadar mengganti. Bengkel yang memberi pilihan, bukan memaksa. Dan yang paling penting, bengkel yang memperlakukan motor dan pelanggan dengan rasa tanggung jawab.
Harapan akan Bengkel yang Ideal
Dari semua pengalaman itu, harapan saya sebenarnya sederhana. Bengkel idaman adalah bengkel yang konsisten. Tidak harus selalu sempurna, tetapi jujur. Jika ada kesalahan, diakui. Jika ada keterbatasan, dijelaskan.
Saya berharap ada bengkel yang memadukan profesionalisme bengkel resmi dengan kehangatan bengkel kecil. Tempat di mana montir terus belajar tanpa mengorbankan kualitas layanan. Tempat di mana SOP bukan sekadar tulisan, tetapi benar-benar dijalankan.
Penutup: Perjalanan yang Masih Berlanjut
Mencari bengkel idaman ternyata seperti perjalanan panjang yang penuh persimpangan. Ada awal yang manis, kekecewaan yang nyata, dan harapan yang terus menyala. Hingga kini, saya masih mencari. Masih mencoba. Masih berharap.
Karena bagi pengguna sepeda motor, bengkel bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah mitra perjalanan. Dan seperti perjalanan itu sendiri, harapan akan bengkel idaman selalu layak untuk diperjuangkan.
Baca juga : Penjualan Mobil Nasional Lesu, Industri Ungkap Akar Masalah
Cek Juga Artikel Dari Platform : mabar

