Perempuan Menguasai Jalan, Tapi Tidak Bengkel
Di jalan raya, pemandangan perempuan mengendarai sepeda motor sudah menjadi hal lumrah. Mereka berangkat kerja, kuliah, mengantar anak, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan kendaraan roda dua. Namun ada satu ruang yang masih terasa “asing” bagi banyak perempuan: bengkel motor.
Ironisnya, motor digunakan hampir setiap hari, tetapi urusan servis justru sering dihindari. Banyak perempuan mengaku menunda servis, menyerahkan urusan bengkel kepada pasangan atau keluarga laki-laki, bahkan memilih menunggu motor benar-benar bermasalah sebelum datang ke bengkel. Padahal, perawatan rutin justru menjadi kunci keselamatan dan efisiensi biaya.
Fenomena ini bukan soal kemampuan teknis. Ini soal rasa aman, pengalaman, dan cara bengkel berkomunikasi dengan pelanggan perempuan.
Data Menunjukkan Kesenjangan Nyata
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, dari lebih dari 127 juta sepeda motor di Indonesia, sekitar 35% dikendarai oleh perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan merupakan bagian signifikan dari pengguna motor nasional.
Namun, di sisi lain, data internal bengkel resmi seperti AHASS menunjukkan bahwa pelanggan perempuan hanya sekitar 20–25%. Artinya, ada jurang besar antara jumlah pengguna dan partisipasi mereka dalam perawatan kendaraan.
Kesenjangan ini mengindikasikan adanya hambatan non-teknis yang belum terselesaikan.
Bengkel Bukan Ruang yang Terasa Aman
Dari wawancara terhadap 10 perempuan dengan latar belakang usia dan profesi berbeda, satu kesimpulan utama muncul: bengkel terasa tidak ramah secara emosional.
Banyak responden menyebut bengkel sebagai ruang yang didominasi laki-laki, baik dari sisi montir, pelanggan, maupun cara komunikasi. Perempuan sering merasa “diawasi”, tidak percaya diri, dan khawatir dianggap tidak paham.
Beberapa responden mengaku:
- Takut ditipu atau “dibikin nambah”
- Malu bertanya karena merasa pertanyaannya dianggap bodoh
- Tidak nyaman dengan tatapan atau komentar tertentu
- Bingung dengan istilah teknis yang tidak dijelaskan dengan bahasa sederhana
Masalahnya bukan motornya, tapi suasananya.
Bahasa Bengkel yang Terlalu Teknis dan Maskulin
Salah satu keluhan paling sering muncul adalah cara komunikasi montir. Banyak bengkel masih menggunakan bahasa teknis yang kaku dan asumtif, seolah semua pelanggan paham mesin.
Istilah seperti spuyer, roller, injector, atau kampas sering dilontarkan tanpa penjelasan. Ketika perempuan bertanya, respons yang diterima kadang singkat, terburu-buru, atau bernada meremehkan.
Akibatnya, pelanggan perempuan merasa:
- Tidak dianggap sebagai subjek yang setara
- Ragu mengambil keputusan
- Lebih memilih diam dan pasrah
Ini bukan soal perempuan “tidak mau belajar”, tetapi soal tidak diberi ruang untuk memahami.
Pengalaman Buruk yang Membekas Lama
Menariknya, banyak responden mengaku trauma datang ke bengkel bukan karena pengalaman besar, melainkan kejadian kecil yang berulang. Misalnya:
- Motor diservis tanpa penjelasan
- Biaya tiba-tiba membengkak
- Montir berbicara ke pendamping laki-laki, bukan ke pemilik motor
- Waktu tunggu lama tanpa informasi
Pengalaman seperti ini mungkin dianggap sepele oleh bengkel, tetapi bagi pelanggan perempuan, dampaknya besar. Satu pengalaman buruk bisa membuat mereka enggan kembali bertahun-tahun.
Perempuan Bukan Tidak Peduli, Tapi Tidak Dilibatkan
Kesalahan umum adalah menganggap perempuan tidak peduli soal mesin. Faktanya, banyak responden justru sangat peduli pada kondisi motornya, karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan aktivitas harian.
Namun, mereka merasa tidak dilibatkan dalam proses perawatan. Tidak diajak berdiskusi, tidak diberi pilihan, dan tidak diberi edukasi sederhana.
Padahal, ketika bengkel mau menjelaskan dengan bahasa yang ramah dan terbuka, responsnya sangat positif. Beberapa responden mengaku setia pada satu bengkel tertentu hanya karena montirnya mau menjelaskan dengan sabar.
Bengkel Ramah Perempuan Masih Langka
Konsep bengkel ramah perempuan sebenarnya sederhana:
- Komunikasi jelas dan tidak merendahkan
- Transparansi biaya dan tindakan
- Ruang tunggu yang nyaman dan aman
- Pelanggan diperlakukan sebagai pemilik keputusan
Sayangnya, konsep ini masih jarang diterapkan secara konsisten. Banyak bengkel masih beroperasi dengan pola lama: cepat, teknis, dan minim dialog.
Padahal, dari sisi bisnis, perempuan adalah segmen pelanggan besar yang belum tergarap maksimal.
Potensi yang Terlewatkan oleh Bengkel
Jika 35% pengendara motor adalah perempuan, maka bengkel yang mampu menciptakan pengalaman nyaman bagi mereka berpotensi meningkatkan pelanggan secara signifikan.
Perempuan juga dikenal sebagai pelanggan yang:
- Loyal jika merasa cocok
- Suka merekomendasikan ke lingkungan sekitar
- Peduli pada detail layanan
Artinya, memperbaiki pendekatan ke pelanggan perempuan bukan sekadar isu kesetaraan, tetapi strategi bisnis yang masuk akal.
Penutup: Masalahnya Bukan di Perempuan
Fenomena perempuan enggan masuk bengkel bukan karena mereka malas, tidak peduli, atau tidak mampu. Masalahnya ada pada sistem layanan yang belum inklusif.
Selama bengkel masih menjadi ruang yang membuat perempuan merasa kecil, bingung, atau tidak aman, jarak itu akan tetap ada. Namun jika bengkel mulai berubah—lebih komunikatif, transparan, dan manusiawi—perempuan tidak hanya akan datang, tetapi juga merasa memiliki.
Karena pada akhirnya, motor dipakai setiap hari. Dan merawatnya seharusnya tidak membuat siapa pun merasa takut masuk ke bengkel.
Baca Juga : UMKM Las Besi Briti Dorong Ekonomi Desa Wiyu
Cek Juga Artikel Dari Platform : zonamusiktop

