Judul tulisan ini bukan hasil riset, bukan pula kesimpulan ilmiah. Tidak ada grafik, tidak ada data statistik, apalagi survei dengan margin of error. Ini murni isi kepala saya—yang entah mengapa selalu muncul setiap kali berpapasan, disalip, atau “ditekan secara halus tapi nyolot” oleh pengguna motor gede di jalan raya.
Dan sebelum tulisan ini dibaca dengan emosi, saya ingin menegaskan sejak awal: ini adalah opini subjektif. Bisa salah. Bisa bias. Bisa juga cuma nasib apes karena terlalu sering ketemu pengendara motor besar yang kelakuannya bikin emosi naik setengah strip.
Tapi justru karena subjektif dan jujur, perasaan ini terasa penting untuk dibicarakan.
Apa yang Saya Maksud dengan “Motor Gede”?
Motor gede di sini saya artikan luas. Tidak melulu moge mahal seperti Harley-Davidson, BMW, atau Ducati. Tapi juga motor-motor yang secara dimensi besar, lebar, dan makan ruang jalan: NMAX, PCX, XMAX, ADV, bahkan motor sport bertubuh bongsor.
Mau mahal, mau murah.
Mau cash, mau kredit.
Mau cc besar atau “cc nanggung”.
Selama motornya besar dan terasa dominan di jalan, di kepala saya masuk kategori motor gede.
Apakah ini adil? Belum tentu.
Apakah ini cara kerja otak manusia di jalan raya? Sangat mungkin.
Pengalaman Pribadi yang Terlalu Konsisten
Kesan “arogan” itu tidak datang dari satu kejadian tunggal. Ia menumpuk dari pengalaman-pengalaman kecil yang berulang:
- Datang dari belakang dengan lampu dekat atau lampu jauh menyala terang, padahal siang hari
- Klakson pendek tapi nadanya seperti berkata, “ayo cepat minggir”
- Nyalip di ruang sempit dengan jarak yang bikin jantung copot
- Atau yang paling halus tapi bikin mental drop: nempel di belakang terlalu dekat, seolah kita yang salah karena tidak melaju lebih cepat
Sekali dua kali mungkin kebetulan.
Tapi kalau pola itu sering terjadi, wajar jika otak mulai menarik kesimpulan—meski belum tentu benar.
Antara Mesin Besar dan Mental Jalanan
Di titik ini saya mulai bertanya-tanya:
Apakah kapasitas mesin dan ukuran kendaraan ikut membentuk cara seseorang bersikap di jalan?
Motor besar punya:
- Tenaga lebih
- Akselerasi lebih agresif
- Stabilitas di kecepatan tinggi
- Dan kehadiran visual yang dominan
Semua itu bisa menciptakan rasa percaya diri.
Dan rasa percaya diri, kalau tidak disertai empati, bisa berubah menjadi dominasi.
Bukan selalu disengaja. Kadang refleks. Kadang kebiasaan. Kadang efek komunitas.
Jalan Raya Bukan Arena Hierarki
Masalahnya, jalan raya bukan arena adu status.
Bukan panggung unjuk cc.
Bukan tempat menentukan siapa yang “lebih berhak” melaju duluan.
Di jalan ada:
- Ojol yang kejar setoran
- Pekerja pulang malam
- Ibu-ibu antar anak sekolah
- Motor tua yang jalannya pas-pasan
- Mobil kecil yang penuh keluarga
Ketika satu jenis kendaraan terasa lebih sering menekan, meski tidak selalu niat, persepsi publik akan terbentuk.
Dan persepsi—benar atau salah—punya dampak sosial.
Bisa Jadi Ini Soal Bias, Bukan Fakta
Saya juga harus jujur:
bisa jadi masalahnya ada di saya.
Bisa jadi:
- Saya sedang lelah
- Sedang macet
- Sedang bad mood
- Atau sedang defensif karena motor saya kecil
Dalam kondisi itu, klakson biasa bisa terasa seperti ancaman.
Lampu dekat terasa seperti intimidasi.
Manuver normal terasa agresif.
Otak manusia sangat pandai memperbesar ancaman ketika lelah.
Tapi Persepsi Kolektif Tidak Muncul dari Nol
Namun ada satu hal yang sulit diabaikan:
persepsi ini tidak hanya hidup di kepala saya.
Cukup buka obrolan santai di warung kopi, media sosial, atau kolom komentar berita lalu lintas. Kesan bahwa “pengguna motor gede cenderung arogan” sering muncul—bahkan dari orang-orang yang tidak saling kenal.
Persepsi kolektif biasanya lahir dari pengalaman kolektif, bukan imajinasi tunggal.
Motor Besar Terlihat Lebih “Mengintimidasi”, Itu Fakta Visual
Terlepas dari niat pengendaranya, motor besar memang secara visual lebih mengintimidasi:
- Lebih tinggi
- Lebih lebar
- Lebih berat
- Lebih berisik
Gerakan kecil saja bisa terasa agresif bagi pengguna jalan lain.
Maka, sikap berkendara yang netral di motor kecil bisa terbaca dominan saat dilakukan oleh motor besar.
Ini Bukan Serangan, Tapi Ajakan Refleksi
Tulisan ini bukan untuk menyudutkan.
Bukan pula menyamaratakan.
Saya kenal dan pernah bertemu banyak pengguna motor gede yang santun, sabar, dan sangat beretika.
Justru karena itu, refleksi ini penting.
Mungkin solusinya sederhana:
- Jaga jarak sedikit lebih jauh
- Kurangi klakson yang bernada “menekan”
- Sadari bahwa motor besar lebih terasa kehadirannya di jalan
Empati kecil bisa menghapus kesan besar.
Penutup: Di Jalan, Kita Semua Sama-Sama Manusia
Pada akhirnya, di jalan raya kita semua punya satu tujuan yang sama:
sampai tujuan dengan selamat.
Bukan siapa yang paling cepat.
Bukan siapa yang paling besar.
Bukan siapa yang paling mahal.
Kalau tulisan ini terasa menyentil, mungkin itu bukan karena tuduhannya, tapi karena ada ruang untuk refleksi.
Dan kalau ternyata saya salah total—tidak apa-apa.
Yang penting, percakapan tentang budaya berkendara yang saling menghormati tetap hidup.
Karena di jalan, sedikit empati jauh lebih berharga daripada tambahan cc mesin.
Baca Juga : Honda Scoopy, Ikon Gaya Hidup Anak Muda Masa Kini
Cek Juga Artikel Dari Platform : podiumnews

