Hidup di Bali Tak Selalu Tentang Pantai dan Liburan
Pulau Bali kerap dipersepsikan sebagai surga wisata, tempat orang datang untuk berlibur, bersenang-senang, dan menikmati hidup. Namun di balik gemerlap pariwisata dan hotel mewah, ada kisah-kisah bertahan hidup yang jarang tersorot. Salah satunya adalah cerita Adi Dwi Cahyo, pria 33 tahun yang kini menjalani hidup sederhana di pusat Kota Denpasar.
Adi—yang akrab disapa Dwi—tinggal di sebuah kamar kos berukuran sekitar 2 x 3 meter. Ruang sempit itu nyaris tak menyisakan area kosong selain kasur dan lemari kecil. Bahkan, pintu lemari tidak bisa dibuka sepenuhnya karena langsung berbenturan dengan ujung kasur. Tak ada dapur, tak ada kamar mandi dalam, dan hampir tak ada ruang untuk bergerak bebas.
Namun yang membuat kisah ini lebih berat, Dwi tidak tinggal sendirian.
Kos 2×3 Meter untuk Bertiga
Di dalam kamar kos sempit itu, Dwi berbagi hidup bersama istri dan anaknya. Setiap sudut ruangan dimanfaatkan seefisien mungkin. Barang-barang disusun bertumpuk, pakaian digantung di balik pintu, dan aktivitas sehari-hari harus dilakukan dengan penuh kompromi.
“Untuk makan di kamar saja susah,” ujar Dwi, dikutip dari Kompas.com. Kalimat singkat itu menggambarkan betapa sempitnya ruang hidup yang ia jalani setiap hari.
Meski demikian, Dwi justru menyebut dirinya beruntung. Di tengah tingginya harga sewa hunian di Bali, ia masih bisa mendapatkan kos dengan tarif Rp500.000 per bulan, sudah termasuk listrik dan air—harga yang kini nyaris mustahil ditemukan di kawasan pusat Denpasar.
Bertahan dengan Gaji Bengkel
Dwi bekerja sebagai montir di sebuah bengkel motor. Penghasilannya pas-pasan, cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga kecilnya. Dengan gaji bengkel yang terbatas, mencari kos yang lebih layak nyaris mustahil, apalagi di kota dengan biaya hidup setinggi Denpasar.
Setiap bulan, Dwi harus memutar otak agar penghasilan yang diterimanya cukup untuk membayar kos, makan sehari-hari, kebutuhan anak, dan keperluan mendadak lainnya. Tak jarang, ia harus mengalah untuk dirinya sendiri demi memastikan istri dan anaknya tetap bisa makan.
Bali yang Mahal bagi Pekerja Kecil
Bagi pekerja sektor informal dan buruh kecil, Bali bukanlah tempat yang murah untuk hidup. Harga kos, makanan, dan transportasi terus meningkat seiring pulihnya sektor pariwisata. Sementara itu, upah banyak pekerja tidak selalu naik sebanding.
Kondisi ini memaksa banyak perantau seperti Dwi memilih hunian yang jauh dari kata layak. Kos sempit, fasilitas minim, dan lingkungan padat menjadi konsekuensi yang harus diterima demi bisa tetap bekerja dan bertahan hidup.
Hidup Tanpa Privasi
Tinggal bertiga dalam kamar 2×3 meter berarti hampir tak ada ruang privat. Setiap aktivitas dilakukan bersama-sama, dari bangun tidur hingga beristirahat malam. Saat anak bermain, orang tua harus menyingkir sedikit. Saat istri beristirahat, Dwi memilih duduk di luar kamar atau sekadar berdiam.
Tak adanya dapur memaksa mereka membeli makanan jadi atau memasak di luar kamar dengan peralatan seadanya. Kamar mandi bersama juga menjadi tantangan tersendiri, terutama di jam-jam sibuk pagi dan sore.
Namun bagi Dwi, kondisi ini masih lebih baik dibanding harus pindah ke tempat yang lebih jauh dari tempat kerja atau membayar kos yang lebih mahal.
Antara Bertahan dan Bertaruh
Dwi sadar hidup di Bali penuh tantangan. Namun kembali ke kampung halaman bukan pilihan mudah. Pekerjaan di daerah asal lebih sulit didapat, dan penghasilan belum tentu lebih baik. Di Bali, meski berat, setidaknya ada pekerjaan yang bisa diandalkan.
Keputusan bertahan di kos sempit ini adalah bentuk pertaruhan hidup. Bertaruh bahwa kerja keras hari ini akan membawa kehidupan yang lebih baik di masa depan, terutama bagi anaknya.
Impian Sederhana
Dwi tidak bermimpi muluk. Ia hanya berharap suatu hari bisa pindah ke kos yang sedikit lebih luas, dengan kamar mandi sendiri dan ruang untuk anaknya bergerak bebas. Baginya, kemewahan bukan soal luas rumah, tetapi soal rasa aman dan kenyamanan keluarga.
“Yang penting anak bisa tumbuh dengan baik,” begitu kira-kira prinsip hidup yang ia pegang.
Potret Nyata Wajah Bali yang Lain
Kisah Dwi adalah potret kecil dari ribuan pekerja yang menopang roda ekonomi Bali. Mereka bukan wisatawan, bukan pengusaha besar, tetapi orang-orang yang bekerja di balik layar—di bengkel, dapur, hotel, dan toko-toko kecil.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa di balik citra Bali sebagai destinasi wisata dunia, ada realitas keras yang dihadapi para pekerja kecil. Hidup di Bali bukan hanya tentang pantai dan matahari terbenam, tetapi juga tentang bertahan di ruang sempit dengan penghasilan terbatas.
Kesimpulan
Kisah Adi Dwi Cahyo menunjukkan bahwa bertahan hidup di Bali membutuhkan lebih dari sekadar kerja keras. Ia membutuhkan ketahanan mental, pengorbanan, dan kesabaran. Tinggal di kamar kos 2×3 meter bersama keluarga kecilnya, Dwi memilih bertahan demi masa depan yang ia harapkan lebih baik.
Di tengah mahalnya biaya hidup dan terbatasnya hunian layak, kisah ini menjadi cermin realitas sosial yang sering luput dari perhatian. Bali bukan hanya tentang liburan, tetapi juga tentang perjuangan hidup orang-orang kecil yang menghidupi pulau ini setiap hari.
Baca Juga : Bengkel Cat Motor Citeureup Terbakar, 4 Damkar Dikerahkan
Cek Juga Artikel Dari Platform : zonamusiktop

