Kalau di pembahasan sebelumnya sektor bodi sudah dikupas habis, kali ini saatnya menyorot bagian yang sering jadi penentu “ganteng atau tidaknya” sebuah mobil stance: kaki-kaki alias undercarriage. Dan ketika objeknya adalah Maserati GranTurismo GTS berkelir biru, hasil akhirnya jelas bukan kaleng-kaleng.
Mobil ini adalah milik William, figur yang sudah lama dikenal di skena modifikasi Tanah Air sebagai penganut aliran static stance garis keras. Hampir semua mobil yang disentuhnya konsisten: ceper, padat, rapi, dan tanpa kompromi gaya. Sekali lihat, aura “static for life” langsung terasa.
Stance Yes, Tapi Tetap Dipakai Harian
Berbeda dengan tren supercar stance yang banyak mengandalkan air suspension, William justru memilih jalur yang lebih “klasik” sekaligus menantang.
“Konsepnya stance, tapi ini full static. Gue memang kurang suka air suspension. Tantangannya gimana caranya mobil ceper, tapi tetap aman dan nyaman dipakai,” buka William saat ditemui di W2R Carchitect.
Pilihan ini jelas bukan tanpa risiko. Static stance berarti semua hitungan harus presisi: tinggi mobil, travel suspensi, ukuran velg, lebar ban, hingga ET. Salah sedikit, mobil bisa mentok, rubbing, atau malah enggak enak dipakai sama sekali.
Fitment Dibangun dari Pengalaman
Bukan kebetulan kalau fitment Maserati GTS ini terlihat “kena banget”. William mengaku prosesnya melalui riset panjang, ditambah pengalaman dari mobil sebelumnya.
“Kita dulu pernah punya Maserati GT, bukan GTS. Di mobil lama itu, depan ring 21, belakang ring 22. Secara tampilan oke, tapi belakang terasa agak cingkrang. Pas mobil itu dijual dan akhirnya dapet GTS ini, fitment-nya gue pikirin mateng-mateng dari nol,” jelasnya.
Pengalaman tersebut jadi bekal penting saat menentukan setup kaki-kaki di mobil yang sekarang.
ADV 5.2 SL Series, Beli Pakai Feeling
Velg jadi elemen paling krusial. Dan di sini ceritanya cukup unik. William memilih ADV.1 5.2 SL Series, velg forged kelas atas yang identik dengan supercar Eropa.
Yang bikin menarik, velg ini dibeli tanpa membawa mobil.
“Jujur gue beli velg seken, dan waktu beli enggak bawa mobilnya. Cuma main feeling aja dari pengalaman. Gue bayangin, kalau ring-nya sama depan belakang, pasti kelihatan lebih padat,” katanya sambil tertawa.
Keputusan itu ternyata tepat.
Ukuran Ganas Tapi Tetap Masuk Fender
Secara spesifikasi, velg yang dipakai bukan ukuran santai:
- Depan: Ring 22, lebar 9,5 inci, ET 10
- Belakang: Ring 22, lebar 12 inci, ET 25
- Ban belakang: 305/25
Lebar velg belakang yang mencapai 12 inci jelas bukan main. Yang bikin salut, semua itu dipasang tanpa widebody, tanpa ubah radius fender, dan tanpa camber kit ekstrem.
“Kita enggak main chamber kit sama sekali. Semua murni di suspensi dan perhitungan fitment,” tegas William.
Hasilnya? Velg gambot masuk rapi, flush, dan tetap usable.
Finishing Velg Ikut Dirombak
Tak puas dengan kondisi standar, ADV 5.2 SL Series ini juga mendapat sentuhan ulang. Dari warna hitam, velg direfinish dengan brush finish dipadu high polish, membuat kesan premium-sporty semakin keluar, apalagi saat terkena pantulan cahaya.
Detail kecil seperti ini justru yang membuat mobil terlihat “mahal” tanpa harus teriak.
Coilover OEM, Tapi Setting Maksimal
Soal suspensi, William kembali menunjukkan pendekatan yang tidak umum di kalangan supercar stance.
“Gue pakai coilover Bilstein OEM. Banyak yang kaget, tapi justru ini yang bikin mobil masih nyaman,” ujarnya.
Yang menarik, setelah proses fitment correction dan mobil diturunkan dari dongkrak, posisi roda langsung pas—tidak mentok body, tidak mentok liner, dan tetap punya ruang kerja suspensi. Semua itu dicapai tanpa bantuan air suspension atau camber ekstrem.
Sentuhan Detail: Kaliper Rem Ikut Ganti Warna
Perhatian William terhadap detail tidak berhenti di velg dan suspensi. Kaliper rem standar Maserati yang sudah besar dengan konfigurasi 6-pot tetap dipertahankan, tapi warnanya diubah.
“Dari merah gue repaint jadi kuning. Biar lebih senada dan manis sama keseluruhan tampilan,” jelasnya.
Perubahan kecil, tapi efek visualnya signifikan, terutama di balik velg besar dengan desain terbuka.
Minimalis, Tapi Stand Out
Dengan kombinasi body MC Line, stance static presisi, velg forged premium, dan detail yang matang, Maserati GTS biru ini sukses tampil stand out tanpa harus terlihat berlebihan. Tidak ada widebody ekstrem, tidak ada air suspension, tidak ada gimmick aneh—semuanya terasa bersih dan dewasa.
Tips Modif Kaki-kaki ala William
Saat ditanya tips membangun fitment selevel ini, jawabannya justru sederhana.
“Learning by doing. Jangan males dan jangan capek bolak-balik bengkel. Coba dulu, rasain, setting lagi. Pas sudah dapet, kita jadi ngerti karakter mobilnya,” tutup William.
Penutup
Maserati GranTurismo GTS ini jadi bukti bahwa stance static di supercar bukan sekadar gaya, tapi seni presisi. Tanpa air suspension, tanpa ubahan bodi ekstrem, mobil ini tetap bisa tampil ceper, padat, dan fungsional. Fitment-nya bukan cuma juara di foto, tapi juga di dunia nyata.
Static memang bukan untuk semua orang—tapi kalau sudah kena, hasilnya susah dilawan.
Baca Juga : Bengkel Tetap Buka dan Promo Trade In Menarik, BYD Palu Siaga Layani Konsumen Akhir Tahun
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : mabar

